www.hiperkes.co.cc

Download e-book kesehatan kerja gratis: Work Dangers & Solutions

Dasar Hukum Keselamatan & Kesehatan Kerja
Billy N.

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan & proses pengolahannya, landasan tempat kerja & lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan.
Keselamatan kerja menyangkut segenap proses produksi distribusi baik barang maupun jasa.
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tak terduga & tidak diharapkan yang terjadi pada waktu bekerja pada perusahaan. Tak terduga, oleh karena dibelakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk perencanaan.

Tujuan Keselamatan Kerja
Tujuan keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup & meningkatan produksi & produktivitas nasional.
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
3. Sumber produksi dipelihara & dipergunakan secara aman & efisien
(lebih…)

Langkah Diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK)
Balai K3 Bandung

Penyakit akibat kerja: man made disease
Penyakit yang disebabkan oleh:
– pekerjaan
– proses kerja
– alat kerja
– lingkungan kerja
– bahan kerja

Penyakit akibat kerja
Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja (Permenaker&trans no.01/1981)
– pneumokoniosis
– bronkopulmoner
– asma kerja
– alveolitis alergis
– penyakit oleh Be
– penyakit oleh Cd
– penyakit oleh P
– penyakit oleh Cr
– penyakit oleh Mg

(Permenaker&trans no.01/1981):
– penyakit oleh Pb
– penyakit oleh As
– penyakit oleh Hg
– penyakit oleh carbon disulfida
– penyakit oleh dernat halogen beracun
– penyakit oleh benzena & homolog racun
– penyakit oleh nitrogen & amino bezena
– kebisingan, vebrasi, radiasi
– dll
(lebih…)

Alat Pelindung Diri
Balai K3 Bandung

adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.
APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun pemakaian APD bukanlah pengganti dari kedua usaha tersebut, namun sebagai usaha akhir

Hirarki Pengendalian Potensi Bahaya K3
Pengendalian Teknis (Engineering Control)
Eliminasi
Substitusi
Isolasi
Perubahan Proses
Ventilasi
Pengendalian Administratif
Pengurangan waktu kerja
Rotasi, Mutasi
Alat Pelindung Diri

METODE PENENTUAN APD
Melalui pengamatan operasi, proses, dan jenis material yang dipakai
Telaah data-data kecelakaan dan penyakit
Belajar dari pengalaman industri sejenis lainnya
Bila ada perubahan proses, mesin, dan material
Peraturan perundangan

APA KRITERIA APD?
Proses penggunaan APD harus memenuhi kriteria:
Hazard telah diidentifikasi.
APD yang dipakai sesuai dengan hazard yang dituju.
Adanya bukti bahwa APD dipatuhi penggunaannya.

DASAR HUKUM
1. Undang-undang No.1 tahun 1970.
a. Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat untuk memberikan APD
b. Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD.
c. Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai APD.
Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara cuma-cuma
2. Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981
Pasal 4 ayat (3) menyebutkan kewajiban pengurus menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja.
3. Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982
Pasal 2 butir I menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja
4. Permenakertrans  No.Per.03/Men/1986
Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga kerja yang mengelola Pestisida harus memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja, sepatu lars tinggi, sarung tangan, kacamata pelindung atau pelindung muka dan pelindung pernafasan

Jenis-jenis APD dan Penggunaannya
A.P. Kepala
A.P. Muka dan Mata
A.P. Telinga
A.P. Pernafasan
A.P. Tangan
A.P. Kaki
Pakaian Pelindung
Safety Belt

APD untuk tugas khusus
Alat Pelindung Kepala
Topi Pelindung/Pengaman (Safety Helmet): Melindungi kepala dari benda keras, pukulan dan benturan, terjatuh dan terkena arus listrik.
Tutup Kepala: Melindungi kepala dari kebakaran, korosif, uap-uap, panas/dingin
Hats/cap: Melindungi kepala dari kotoran debu atau tangkapan mesin-mesin berputar

TOPI PENGAMAN
Untuk penggunaan yang bersifat umum dan pengaman dari tegangan listrik yang terbatas.
Tahan terhadap tegangan listrik tinggi.
Tanpa perlindungan terhadap tenaga listrik,biasanya terbuat dari logam
Yang digunakan untuk pemadam kebakaran.

PENGUJIAN MEKANIK
Dengan menjatuhkan benda seberat 3 kg dari ketinggian 1m, topi tidak boleh pecah atau benda tak boleh menyentuh kepala.
Jarak antara lapisan luar dan lapisan dalam dibagian puncak ; 4-5 cm.
Tidak menyerap air dengan direndam dalam air selama 24 jam. Air yang diserap kurang 5% beratnya
Tahan terhadap api

PENGUJIAN DAYA TAHAN TERHADAP API
Topi dibakar selama 10 detik dengan pembakar Bunsen atau propan, dengan nyala api bergaris tengah 1 cm. Api harus padam setelah 5 detik.

Pengujian listrik
Tahan terhadap listrik tegangan tinggi diuji dengan mengalirkan arus bolak-balik 20.000 volt dengan frekuensi 60 Hz, selama 3 menit,kebocoran arus harus lebih kecil dari 9 mA.
Tahan terhadap listrik tegangan rendah, diuji dengan mengalirkan arus bolak-balik 2200 volt dengan frekuensi 60 Hz selama 1 menit kebocoran arus harus kurang dari 9mA

Manfaat Topi/Tudung
Untuk melindungi kepala:
Dari zat-zat kimia berbahaya
Dari Iklim yang berubah-ubah
Dari bahaya api dll

APD RESPIRATOR dan KACAMATA
Mudah dikenakan.
Cocok untuk kasus berisiko kecil dan menengah.

ALAT PELINDUNG MUKA DAN MATA ( FACE SHIELD )
Fungsi: Melindungi muka dan mata dari:
Lemparan benda – benda kecil.
Lemparan benda-benda panas.
Pengaruh cahaya.
Pengaruh radiasi tertentu.

BAHAN PEMBUAT ALAT PELINDUNG MUKA DAN MATA
Gelas/kaca biasa/Plastik.
Gelas yang ditempa secara panas.Bila pecah tak menimbulkan bagian-bagian yang tajam.
Gelas dengan laminasi aluminium dan lain-lain.
Yang terbaik adalah jenis gelas yg ditempa secara panas karena bila pecah tak menimbulkan bagian-bagian yang tajam .Bila dipasang frame tak mudah lepas.
Dari plastik ada beberapa jenis tergantung dari bahan dasarnya seperti: selulosa asetat, akrilik, poli karbonat dll

SYARAT OPTIS TERTENTU
Lensa tidak boleh mempunyai efek distorsi/ efek prisma lebih dari 1/16 prisma dioptri; artinya perbedaan refraksi,harus lebih kecil dari 1/16 dioptri.
Alat pelindung mata terhadap radiasi : Prinsipnya kacamata yang hanya tahan terhadap panjang gelombang tertentu;
Standar Amerika, ada 16 jenis kaca dengan sifat-sifat tertentu

Integrasi APD
Alat pelindung kepala ini dapat dilengkapi dengan alat pelindung diri lainnya seperti:
Kacamata / goggles.
Penutup muka.
Penutup telinga.
Respirator dan lain-lain.

Alat Pelindung Telinga
Sumbat telinga (ear plug): Dapat mengurangi intensitas suara 10 s/d 15 dB
Tutup telinga ( ear muff ): Dapat mengurangi intensitas suara 20 s/d 30 dB

ALAT PELINDUNG TELINGA (ear protector)
Sumbat Telinga
Sumbat telinga yang baik adalah menahan frekuensi tertentu saja,sedangkan frekuensi untuk bicara biasanya (komunikasi) tak terganggu.
Kelemahan: tidak tepat ukurannya dengan lobang telinga pemakai, kadang-kadang lobang telinga kanan tak sama dengan yang kiri
Bahan sumbat telinga
Karet, plastik keras, plastik yang lunak, lilin, kapas.
Yang disenangi adalah jenis karet dan plastic lunak,karena bisa menyusaikan bentuk dengan lobang telinga.
Daya atenuasi (daya lindung) : 25-30 dB
Ada kebocoran dapat mengurangi atenuasi + 15 dB
Dari lilin  :
– bisa lilin murni
– dilapisi kertas
– kapas
Kelemahan:
Kurang nyaman
Lekas kotor.
Dari kapas: daya atenuasi paling kecil antara 2 – 12 dB.

Tutup Telinga
Ada beberapa jenis
Atenuasinya:  pada frekuensi 2800–4000 Hz sampai 42 dB (35–45 dB)
Untuk frekuensi biasa 25-30 dB.
Untuk keadaan khusus dapat dikombinasikan antara tutup telinga dan sumbat telinga sehingga dapat atenuasi yang lebih tinggi; tapi tak lebih dari 50 dB,karena hantaran suara melalui tulang masih ada.

FUNGSI & JENIS alat pelindung pernafasan
Memberikan perlindungan terhadap sumber-sumber bahaya seperti:
kekurangan oksigen
pencemaran oleh partikel (debu, kabut, asap dan uap logam)
pencemaran oleh gas atau uap
Alat Pelindung Tangan
Alat Pelindung Kaki
Pada industri ringan/ tempat kerja biasa
Cukup dengan sepatu yang baik
Sepatu pelindung ( safety shoes)
Dapat terbuat dari kulit, karet, sintetik atau plastik
Untuk mencegah tergelincir
Dipakai sol anti slip
Untuk mencegah tusukan
Dipakai sol dari logam
Terhadap bahaya listrik
Sepatu seluruhnya harus di jahit atau  direkat tak boleh memakai paku.

Safety Belt
Berguna untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh, biasanya digunakan pada  pekerjaan konstruksi dan memanjat serta tempat tertutup atau boiler.
Harus dapat menahan beban sebesar 80 Kg.
Jenis
Penggantung unifilar
Penggantung berbentuk U
Gabungan penggantung unifilar dan bentuk U
Penunjang dada (chest harness)
Penunjang dada dan punggung (chest waist harness)
Penunjang seluruh tubuh (full body harness)

SETELAH APD DIPAKAI, APAKAH?
APD yang dipakai sesuai standar?
APD memberikan perlindungan?
APD sesuai dengan tugas yang dikerjakan?
APD nyaman dipakai terus menerus?

MANAJEMEN  APD
APD dibutuhkan untuk membatasi hazard lingkungan
Jangan membeli APD sekedar hanya memiliki jenis APD
Adanya hazard awareness dan pelatihan
Adanya SOP penggunaan APD
APD yang dibeli telah melalui seleksi kebutuhan jenis pekerjaan
PERKEMBANGAN APD
Teknologi APD berkembang pesat pada APD terhadap bahaya fisik dan kimia.
Namun kurang berkembang pada APD terhadap bahaya biologi.
Kelemahan penggunaan APD
Kemampuan perlindungan yang tak sempurna karena (memakai APD yang kurang tepat,cara pemakaian APD yang salah, APD tak memenuhi persyaratan standar)
APD yang sangat sensitive terhadap perubahan tertentu.
APD yang mempunyai masa kerja tertentu seperti kanister, filter dan penyerap (cartridge).
APD dapat menularkan penyakit,bila dipakai berganti-ganti.
Mengapa APD sering tidak dipakai
Rendahnya kesadaran pekerja terhadap Keselamatan kerja
Dianggap mengurangi feminitas
Terbatasnya faktor stimulan pimpinan
Karena tidak enak /kurang nyaman.

Toksikologi Industri
Balai K3 Bandung

TOKSIKOLOGI
Yaitu ilmu yang mempelajari tentang mekanisme kerja dan efek yang tidak diinginkan dari bahan kimia yang bersifat racun serta dosis yang berbahaya terhadap tubuh manusia

TOKSIKOLOGI INDUSTRI
Adalah salah satu cabang ilmu toksikologi yang menaruh perhatian pada pengaruh pemajanan bahan-bahan yang dipakai dari sejak awal sebagai bahan baku, proses produksi, hasil produksi beserta penanganannya terhadap tenaga kerja yang bekerja di unit produksi tersebut

PENGERTIAN
Ø TOKSIN/RACUN
Yaitu suatu zat yang dalam jumlah relative kecil mengganggu kesehatan manusia
Ø XENOBIOTIK
Yaitu sebutan untuk semua bahan yang asing bagi tubuh, Mis: bahan obat, bahan kimia
Ø TOKSISITAS
Yaitu kemampuan suatu zat untuk menimbulkan kerusakan pada organ tubuh suatu organisme
Ø LD50 Suatu zat
Yaitu dosis yang dapat menyebabkan kematian pada 50 % binatang percobaan dalam spesies yang sama setelah terpapar suatu zat dalam waktu tertentu
Ø ED50 (efektif dosis)
Yaitu dosis yang dapat menimbulkan efek spesifik selain kematian pada 50 % binatang percobaan
Ø DOSIS
Yaitu jumlah xenobiotik yang masuk ke dalam tubuh manusia
Ø HUBUNGAN DOSIS DAN EFEK (Dose-Effect Relationship)
Yaitu hubungan antara dosis dengan efek yang terjadi pada manusia
Ø DOSE RESPONSE RELATIONSHIP
Yaitu hubungan antara dosis dan prosentase individu yang menunjukkan gejala tertentu/spesifik
Ø EFEK ADITIF
Yaitu efek yang terjadi bila kombinasi dua atau lebih bahan kimia saling mengkuatkan
Ø MASA LATEN
Yaitu waktu antara pemaparan pertama dengan timbulnya gejala/respon
Ø EFEK SISTEMIK
Yaitu efek toksik pada jaringan seluruh tubuh
Ø TARGET ORGAN
Target organ adalah organ yang paling sensitif terhadap pajanan yang terjadi
Ø EFEK AKUT
Efek yang terjadi sesudah terpajan dalam waktu singkat (jam, hari)
Ø EFEK KRONIS
Efek yang terjadi setelah pajanan yang cukup lama (bulanan, tahunan)

MASUKNYA BAHAN KIMIA KEDALAM TUBUH
Þ EFEK:
1. LOKAL : (pada bagian yang terkena bahan kimia)
2. SISTEMIK : (bila bahan kimia terserap kedalam tubuh

Þ ABSORBSI
Bahan kimia masuk ke dalam tubuh melalui:
a. Saluran pernafasan (terhirup)
Ex : gas (CO,NOx,), Uap (benzene, CCl4), bahan mudah larut (Kloroform),   debu (partikel ukuran 1-10 u ,ditimbun di paru-paru
b. Saluran pencernaan (tertelan)
Biasanya karena kecelakaan, lambung kosong mempercepat penyerapannya
c. Kulit (zat-zat yang toksik, zat yg larut dalam lemak, insektisida, organik solvent (efek sistemik))
d. Suntikan intravena, intra muskular, sub kutan dll

Þ DISTRIBUSI
– Bahan kimia organik (methyl merkuri) dapat menembus organ (otak)
– Bahan Kima anorganik (merkuri) tidak dapat menembus otak tapi tertimbun dalam ginjal
– Hati dan ginjal memiliki kapasitas mengikat bahan kimia yang tinggi dibanding organ lain, karena fungsi sebagai organ yang memetabolisirdan membuang bahan kimia berbahaya
– Bahan yang mudah larut dalam lemak, maka jaringan lemak merupakan tempat penimbunan bahan yang mudah larut dalam lemak (ex. DDT, Diedrin, Polychlorinated biphenyls(PCB)

Þ EKSKRESI
– bahan kimia diekskresikan dapat dalam bentuk bahan asal maupun metabolitnya
– ekskresi utama melalui ginjal (hampir semua kimia berbahaya) bahan-bahan tertentu lewat hati dan paru-paru
– ekskresi melalui ginjal terutama bahan yang larut dalam air
– ekskresi melalui paru-paru, untuk bahan yang pada suhu tubuh masih berbentuk gas (ex. CO)

EFEK TOKSIK PADA TUBUH
1. LOKAL DAN SISTEMIK
– Lokal : bahan yang bersifat korosif, iritatif
– Sistemik : terjadi setelah bahan kimia masuk, diserap dan distribusikan ke tubuh
– Konsentrasi bahan berbahaya tidak selalu paling tinggi dalam target organ  (ex. Target organ methyl merkuri adalah otak, tapi konsentrasi tertinggi ada di hati dan ginjal, DDT target organnya adalah susunan pusat syaraf pusat tapi konsentrasi tertinggi pada jaringan lemak)

2. EFEK YANG REVERSIBLE DAN IRREVERSIBLE
– Reversible : bila efek yang terjadi hilang dengan dihentikannya paparan bahan berbahaya. Biasanya konsentrasi masih rendah dan waktu singkat.
– Irreversible : bila efek yang terjadi terus menerus bahkan jadi parah walau pajanan telah dihentikan (ex. Karsinoma, penyakit hati), biasanya konsentrasi tinggi dan waktu lama

3. EFEK LANGSUNG DAN TERTUNDA
– efek langsung : segera terjadi setelah pajanan (ex. Sianida)
– efek tertunda : efek yang terjadibeberapa waktu setelah pajanan (efek karsinogenik)

4. REAKSI ALERGI DAN IDIOSYNKRASI
– Reaksi alergi (hipersensitivitas) terjadi karena adanya sensitisasi sebelumnya yang menyebabkan dibentuknya antibodi oleh tubuh
– Reaksi Idiosynkrasi : merupakan reaksi tubuh yang abnormal terhadap karena genetik (ex. Kekurangan enzim succynicholin)

KLASIFIKASI BAHAN BERACUN
Antara lain :
1. Berdasarkan penggunaan bahan: solvent, aditif makanan dll
2. Berdasarkan target organ: hati, ginjal, paru, system haemopoetik
3. Berdasarkan fisiknya: gas, debu, cair, fume, uap dsb
4. Berdasarkan kandungan kimia: aromatic amine, hidrokarbon dll
5. Berdasarkan toksisitasnya: Ringan, sedang dan berat
6. Berdasarkan fisiologinya: iritan, asfiksan, karsinogenik dll

TINGKAT KERACUNAN BAHAN BERACUN
– Tidak ada batasan yang jelas antara bahan kimia berbahaya dan tidak berbahaya
– Bahan kimia berbahaya bila ditangani dengan baik dan benar akan aman digunakan
– Bahan kimia tidak berbahaya bila ditangani secara sembrono akan menjadi sangat berbahaya
– Paracelsus (1493-1541) ” semua bahan adalah racun, tidak ada bahan apapun yang bukan racun, hanya dosis yang benar membedakan apakah menjadi racun atau obat”
– Untuk mengetahui toksisitas bahan dikenal LD50, semakin rendah LD50 suatu bahan, maka makin berbahaya bagi tubuh dan sebaliknya
Racun super: 5 mg/kgBB atau kurang, contoh: Nikotin
Amat sangat beracun: (5-50 mg/kgBB), contoh: Timbal arsenat
Amat beracun: (50-500 mg/kgBB), contoh: Hidrokinon
Beracun sedang: (0.5-5 g/kgBB), contoh: Isopropanol
Sedikit beracun: (5-15 g/kgBB), contoh: Asam ascorbat
Tidak beracun: (>15 g/kgBB), contoh: Propilen glikol

FAKTOR YANG MENENTUKAN TINGKAT KERACUNAN
1. Sifat Fisik bahan kimia
9 Bentuk yang lebih berbahaya bila dalam bentuk cair atau gas yang mudah terinhalasi dan bentuk partikel bila terhisap, makin kecil partikel makin terdeposit dalam paru-paru
2. Dosis (konsentrasi) *
9 Semakin besar jumlah bahan kimia yang masuk dalam tubuh makin besar efek bahan racunnya
9 E = T x C
E = efek akhir yang terjadi (diturunkan seminimal dengan NAB)
T = time
C = concentration
9 Pajanan bisa akut dan kronis
3. Lamanya pemajanan *
– gejala yang ditimbulkan bisa akut, sub akut dan kronis
4. Interaksi bahan kimia
9 Aditif : efek yang timbul merupakan penjumlahan kedua bahan kimia ex. Organophosphat dengan enzim cholinesterase
9 Sinergistik : efek yang terjadi lebih berat dari penjumlahan jika diberikan sendiri2  ex. Pajanan asbes dengan merokok
9 Antagonistik : bila efek menjadi lebih ringan
5. Distribusi
9 Bahan kimia diserap dalam tubuh kemudian didistribusikan melalui aliran darah sehingga terjadi akumulasi sampai reaksi tubuh
6. Pengeluaran
9 Ginjal merupakan organ pengeluaran sangat penting, selain empedu, hati dan paru-paru
7. Faktor tuan rumah (host)
– Faktor genetic
– Jenis kelamin : pria peka terhadap bahan kimia pada ginjal, wanita pada hati
– Factor umur
– Status kesehatan
– Hygiene perorangan dan perilaku hidup
NILAI AMBANG BATAS DAN INDEKS PEMAPARAN BIOLOGIS (BIOLOGICAL EXPOSURE INDICES)
Bila pengendalian lingkungan tidak bisa mengurangi kadar bahan kimia di tempat kerja maka perlu dilakukan :
– pemantauan biologis (biological monitoring)
– Indeks pemaparan biologis (Biological exposure Indices)
Yaitu suatu nilai panduan untuk menil;ai hasil pemantauan biologis yang penetuan nilainya ditentukan dengan mengacu pada nilai NAB

BAHAN KIMIA BERACUN
1. Logam/metaloid
Pb(PbCO3): Syaraf, ginjal dan darah
Hg (organik&anorganik): Saraf dan ginjal
Cadmium: Hati, ginjal dan darah
Krom: Kanker
Arsen: Iritasi kanker
Phospor: Gangguan metabolisme

2. Bahan pelarut
Hidrokarbon alifatik (bensin, minyak tanah): Pusing, koma
Hidrocarbon terhalogensisasi(Kloroform, CCl4): Hati dan ginjal
Alkohol (etanol, methanol): Saraf pusat, leukemia, saluran pencernaan
Glikol: Ginjal, hati, tumor

3. Gas beracun
Aspiksian sederhana (N2,argon,helium): Sesak nafas, kekurangan oksigen
Aspiksian kimia asam cyanida(HCN), Asam Sulfat (H2SO4), Karbonmonoksida (CO), Notrogen Oksida (NOx): Pusing, sesak nafas, kejang, pingsan

4.Karsinogenik
Benzene: Leukemia
Asbes: Paru-paru
Bensidin: Kandung kencing
Krom: Paru-paru
Naftilamin: Paru-paru
Vinil klorida: Hati, apru=paru, syaraf pusat, darah

5. Pestisida
Organoklorin: Pusing, kejang, hilang
Organophosphat: Kesadaran dan
Karbamat: kematian
Arsenik

Milik Siapa Hasil Tes Kesehatan Pelamar Kerja & Pegawai?
Billy N. <billy@Hukum-Kesehatan.web.id>

Diterima & berhenti bekerja merupakan hal yang biasa terjadi dalam dunia ketenagakerjaan. Sebagian besar mahasiswa yang baru lulus kuliah pun bercita-cita untuk bekerja, menjadi pegawai di berbagai perusahaan.
Tes kesehatan adalah hal yang lazim ada dalam rangkaian saringan masuk sebagai pegawai. Banyak pelamar kerja kecewa karena mereka tidak dapat bekerja di suatu perusahaan karena dinyatakan tidak lulus tes kesehatan. Tentunya, banyak dari pelamar tersebut yang bingung karena mereka merasa dirinya sehat, tetapi mereka tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya menjadi masalah sehingga mereka gagal dalam tes kesehatan, karena baik secara lisan maupun tertulis, mereka tidak pernah diberikan hasil tes kesehatan tersebut.
Dari sekian banyak pelamar kerja yang gagal dalam tes kesehatan, pasti banyak yang mencoba untuk meminta keterangan lisan atau salinan hasil tes tersebut ke tempat mereka menjalani tes kesehatan atau ke perusahaan tempat mereka melamar kerja, namun dengan alasan “rahasia” atau “hasil milik perusahaan”, tidak satu pun dari para pelamar kerja mendapatkan hasil tes kesehatannya.
Memang, pihak perusahaan memiliki otonomi untuk memilih siapa saja yang dapat bekerja di perusahaan mereka, tetapi, hal ini menimbulkan pertanyaan: milik siapa hasil tes kesehatan pelamar kerja? Apakah milik perusahaan yang membayar biaya tes? Atau milik pelamar kerja?
Secara formal, hasil tes kesehatan adalah tergolong sebagai rekam medik. Menurut UU no.29/2004 (tentang praktik kedokteran) ataupun Permenkes 269/2008 (tentang rekam medik), semua berkas pemeriksaan atau pelayanan kepada pasien di sarana kesehatan adalah rekam medik, & isi rekam medik adalah milik pasien, dalam hal ini adalah pelamar kerja.
Alasan bahwa perusahaan yang membayar biaya tes kesehatan tersebut sehingga berhak atas hasil tes kesehatan adalah alasan yang tidak tepat, karena pembayaran adalah urusan administratif. Selain itu, hasil tes kesehatan juga bukan sesuatu yang dapat diperjualbelikan. Sehingga, siapapun yang membayar biaya tes, hasil tes kesehatan tetap milik pelamar kerja.
Hasil tes kesehatan pun tidak boleh dirahasiakan dari pelamar kerja, karena yang diperiksa adalah fisik & mental mereka, sampel tes kesehatan pun diambil/bersumber dari tubuh mereka. Sehingga, pelamar kerja sebagai pemilik obyek yang di-tes, berhak untuk mengetahui hasil tes kesehatannya.
Di Permenkes 269/2008 juga telah diatur bahwa isi rekam medik hanya dapat dipaparkan ke pihak lain oleh dokter yang merawat pasien (pelamar kerja) dengan izin tertulis dari pasien (pelamar kerja). Sehingga, jika pihak perusahaan/instansi hendak meminta hasil tes dari para pelamar kerja ke pihak pemeriksa kesehatan, harus ada surat izin tertulis dari pemiliknya, yaitu para pelamar kerja.
Hal ini juga berlaku untuk para pelamar kerja yang kelak diterima bekerja sebagai pegawai. Hasil tes kesehatan rutin pegawai juga merupakan rekam medik yang tunduk pada UU no.29/2004 & Permenkes 269/2008, sehingga tetap menjadi milik pegawai & harus diserahkan ke pegawai. Jika perusahaan hendak mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan tersebut, harus mendapat izin tertulis dari pegawai.
Jika ada perjanjian/kontrak kerja yang bertentangan dengan kedua peraturan perundangan tersebut, misalnya klausul bahwa pelamar kerja & pegawai tidak berhak mengetahui hasil tes kesehatannya karena biaya pemeriksaan dibayar oleh perusahaan atau pelamar kerja & pegawai mengalihkan kepemilikan hasil tes kesehatannya pada perusahaan, dapat dinyatakan batal demi hukum karena perjanjian/kontrak telah bertentangan dengan peraturan perundangan yang ada. Hal ini harus diperhatikan oleh pihak perusahaan untuk tidak memuat klausul yang bertentangan dengan hukum dalam kontrak/perjanjian kerja.
Dengan diberikannya hasil tes kesehatan pada para pelamar kerja & pegawai, jika mereka memang benar-benar tidak layak untuk bekerja karena ada suatu penyakit, tentunya mereka dapat berobat sehingga mereka dapat sembuh & layak untuk bekerja. Perusahaan pun tidak dapat berlindung di balik hasil tes kesehatan yang dirahasiakan, dengan menyatakan “tidak lolos tes kesehatan” setiap kali tidak meloloskan para pelamar kerja atau memberhentikan pegawai.
Dapat disimpulkan bahwa hasil tes pelamar kerja & pegawai adalah milik para pelamar kerja & pegawai tersebut, terlepas dari siapapun yang membayar biaya tes kesehatannya. Perusahaan harus mendapat izin tertulis dari pelamar kerja & pegawai untuk memperoleh hasil tes kesehatan.

Dari hal-hal yang telah diuraikan tersebut, dapat disarankan:
– Bagi pelamar kerja & pegawai: Selalu meminta salinan lengkap hasil tes kesehatan karena itu adalah hak Anda.
– Bagi pihak perusahaan: Hasil tes kesehatan pelamar kerja & pegawai adalah milik pelamar kerja, sehingga mintalah izin tertulis dari para pelamar kerja & pegawai untuk mendapatkan hasil tes kesehatan. Jangan cantumkan klausul yang bertentangan hukum dalam kontrak/perjanjian kerja dengan pegawai.
– Bagi pengelola sarana kesehatan: Pihak perusahaan harus melampirkan izin tertulis dari pelamar kerja & pegawai untuk memperoleh hasil tes kesehatan. Memberikan hasil tes kesehatan pelamar kerja & pegawai pada perusahaan tanpa izin tertulis dari para pelamar kerja & pegawai adalah pelanggaran administratif (menurut UU no.29/2004 & Permenkes 269/2008) & pidana (pasal 322 KUHP). Salinan lengkap dari hasil tes kesehatan juga harus diberikan pada para pelamar kerja & pegawai karena itu merupakan hak dari para pelamar kerja & pegawai.
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Keselamatan Kerja
Balai K3 Bandung

Definisi: Keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan, tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan kerja.
Merupakan sarana utama untuk pencegahan kerugian; cacat & kematian sebagai kecelakaan kerja, kebakaran, & ledakan.

Sasaran
Tempat kerja: darat, udara, dalam tanah, permukaan air, dalam air.
Mencakup: Proses produksi & distribusi (barang & jasa)

Peranan keselamatan kerja
Aspek teknis: Upaya preventif utk mencegah timbulnya resiko kerja
Aspek Hukum: Sebagai perlindungan bagi tenaga kerja (TK) & orang lain di tempat kerja
Aspek ekonomi: Untuk efisiensi
Aspek sosial: Menjamin kelangsungan kerja & penghasilan bagi kehidupan yang layak
Aspek kultural: Mendorong terwujudnya sikap & perilaku yang disiplin, tertib, cermat, kreatif, inovatif, & penuh tanggung jawab.

Sasaran keselamatan kerja ditujukan utk melindungi TK & orang lain yg berada di tempat kerja, terjadinya kecelakaan kerja, peledakan, penyakit akibat kerja, kebakaran, & polusi yang memberi dampak negatif terhadap korban, keluarga korban, perusahaan, teman sekerja korban, pemerintah, & masyarakat.

Hampir celaka (near miss): Suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan, dalam kondisi yang sedikit berbeda dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan.
Contoh: seseorang yang hampir terpeleset, tapi segera berpegangan pada pagar pengaman.

Kesadaran akan keselamatan masih rendah, salah satu indikasinya:
Kecelakaan kerja (2005): 96.081 kasus di Indonesia
Kecelakaan kerja  (2006): 92.000 kasus di Indonesia

Kecelakaan tidak terjadi secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya.
Kecelakaan dapat dicegah atau dikurangi dengan menghilangkan atau mengurangi penyebabnya.
Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tak diharapkan.
Kerugian kecelakaan kerja (5K): kerusakan, kekacauan organisasi, keluhan & kesedihan, kelainan & cacat, kematian.

Penyebab kecelakaan manusia, mesin, lingkungan
– Kondisi yang tidak aman (15%)
– Tindakan yang tidak aman (85%)

Konsep modern manajemen keselamatan:
Sebab-sebab kecelakaan: Secara umum ada 2 penyebab terjadinya kecelakaan kerja.
-Penyebab langsung: Kecelakaan yg bisa dilihat & dirasakan langsung
Penyebab Dasar: (basic cause)

Penyebab langsung:
– Unsafe conditions & sub-standard conditions
– Unsafe acts & sub-standard practice

Unsafe conditions & sub-standard conditions (kondisi berbahaya): keadaan yang tidak aman pada hakekatnya dapat diamankan/diperbaiki
– Pengaman yang tidak sempurna
– Peralatan/bahan yang tidak seharusnya
-Penerangan kurang/berlebih
– Ventilasi kurang
– Iklim kerja tidak sesuai
– Getaran
– Kebisingan cukup tinggi
– Pakaian tidak sesuai
– Ketatarumahtanggaan yang buruk (poor house keeping)

Unsafe acts & sub-standard practice (tindakan yang berbahaya): tindakan/perbuatan yang menyimpang dari tata cara/prosedur aman
– Melakukan pekerjaan tanpa wewenang
– Menghilangkan fungsi alat pengaman (melepas/mengubah)
– Memindahkan alat-alat keselamatan
– Menggunakan alat yang rusak
– Menggunakan alat dg cara yang salah
– Bekerja dengan posisi/sikap tubuh yang tidak aman
– Mengangkat secara salah
– Mengalihkan perhatian (mengganggu, mengagetkan, bergurau)
– Melalaikan penggunaan alat pelindung diri (APD) yang ditentukan
– Mabuk karena minuman beralkohol

Penyebab dasar kecelakaan kerja:
– Faktor manusia
* Kurangnya kemampuan fisik, mental & psikologi
* Kurangnya pengetahuan & ketrampilan
* Stres
* Motivasi yang salah

- Faktor lingkungan
* Kepemimpinan/pengawasan kurang
* Peralatan & bahan kurang
* Perawatan peralatan yang kurang
* Standar kerja kurang

Biaya langsung dari kecelakaan kerja:
– P3K
– Pengobatan
– Perawatan
– Biaya Rumah Sakit
– Angkutan
– Upah (selama tidak bekerja)
-Kompensasi

Biaya tidak langsung dari kecelakaan kerja: Segala yang tidak terlihat pada waktu kecelakaan terjadi.
– Berhentinya proses produksi karena pekerja lainnya menolong atau tertarik peristiwa kecelakaan – Kualitas produk mungkin menurun
– Melatih orang baru sebagai pengganti
– Waktu
– Keuangan keluarga (transpor & bekal)
– Kerusakan bangunan & peralatan

Faktor penyebab kejadian kecelakan di industri, antara lain:
– Kegagalan komponen, misalnya desain alat yang tidak memadai & tidak mampu menahan tekanan, suhu atau bahan korosif
– Penyimpangan dari kondisi operasi normal, seperti kegagalan dalam pemantauan proses, kesalahan prosedur, terbentuknya produk samping
– Kesalahan manusia (human error), seperti mencampur bahan kimia tanpa mengetahui jenis & sifatnya, kurang terampil, & salah komunikasi
Faktor lain, misalnya sarana yang kurang memadai, bencana alam, sabotase, kerusuhan massa.

Klasifikasi Kecelakaan kerja:
– Menurut jenis kecelakaan
* Jatuh
* Tertimpa benda jatuh
* Menginjak, terantuk
* Terjepit,terjempit
* Gerakan berlebihan
* Kontak suhu tinggi
* Kontak aliran listrik
* Kontak dengan bahan berbahaya/radiasi

- Menurut media penyebab
* Mesin
* Alat angkut & alat angkat
* Peralatan lain
* Bahan, substansi & radiasi
* Lingkungan kerja
* Penyebab lain

- Menurut sifat cedera
* Patah tulang
* Keseleo
* Memar
* Amputasi
* Luka bakar
* Keracunan akut
* Kematian

- Menurut bagian tubuh yang cedera
* Kepala
* Leher
* Badan
* Anggota gerak atas
* Anggota gerak bawah

Manfaat Klasifikasi :
– Mencegah kecelakaan kerja yang berulang
-Sebagai sumber informasi: faktor penyebab, keadaan pekerja, kompensasi
– Meningkatkan kesadaran dalam bekerja.

Pencegahan kecelakaan kerja:
-Peraturan perundangan
– Standarisasi
– Pengawasan
– Penelitian teknik
– Riset medis
– Penelitian psikologis
– Penelitian secara statistik
– Pendidikan
– Latihan-latihan
– Penggairahan
– Asuransi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.